Langganan yukz

Selamat datang!! di Area Kawasan Para Penghitung FULUS. 4ebsatu 2007 Katanya sih kelas unggulan...(ciee)
Kelas eb satu 2007 yg ini bener2 beda!! Kalo soal otak sih jangan ditanya hahahhah.... anak-anak nya goxil, kritis, solid ma friends, saling berbagi, saling pula melengkapi,…
Penghuni eb satu 2007 dari yg paling jelas sampai yg gak jelas atau kelewat jelas.. ada!

Jadwal Kuliah 4EB01

KELASHARIMATA KULIAHWAKTURUANGDOSEN
4EB01SelasaKonsep Sist. Informasi Akt.*/**2/3/4E334BUDI SANTOSO, SE.,MM
4EB01SelasaStudi Kelayakan Bisnis6/7/8E134CH DEWI WULANDARI
4EB01RabuAnalisis&Perenc.Sist.Akt. 11/2E136SUDARSONO
4EB01RabuAkuntansi Manajemen Lanjut4/5/6E137DESI PUJIATI
4EB01RabuAkuntansi Syariah7/8/9E137ERLINA NURAINI, SE
4EB01KamisAkuntansi Pemerintahan *1/2/3D027ANNE DAHLIAWATI
4EB01KamisPemeriksaan Akuntansi Lanjutan **5/6/7D006RR DHARMA TINTRI EDIRARAS
4EB01KamisEtika Profesi Akuntansi #8/9D006RATNA AMBAR M

Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Desember 2009

Saham KS peluang diminati

JAKARTA – Pengamat pasar modal Willy Sanjaya berpendapat, dari lima badan usaha milik negara (BUMN) yang akan melantai di bursa pada 2010,PT Krakatau Steel (KS) memiliki peluang paling besar untuk diserap pasar.

“Karena di Indonesia dia monopoli. Di sektor baja, KS sangat kuat,” kata dia. Pada 2010 ada lima BUMN yang akan mencatatkan sahamnya di bursa. Lima perusahaan pelat merah itu adalah PT Pembangunan Perumahan (PP), PT Krakatau Steel (KS), PT Garuda Indonesia, PT Perkebunan Nasional (PTPN) III,dan PTPN IV. Dia melanjutkan, saham KS nanti tidak hanya diminati di dalam negeri, investor luar negeri juga akan meminati saham perusahaan baja terbesar di Tanah Air itu.

Pergerakan saham anak usaha KS,Latinusa yang sudah lebih dulu menggelar penawaran umum saham perdana (initial public offering/ IPO), juga akan terkerek dengan tercatatnya KS di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Prospek saham KS diserap pasar akan sangat besar. Kalau anak usahanya saja diminati, bagaimana induknya (KS),”ujar dia. Nippon Steel Corporation yang merupakan pemegang saham mayoritas Latinusa menyatakan minatnya untuk membeli saham yang akan dilepas BUMN baja itu ketika IPO.

Deflasi, BoJ Rate 0,1%

TOKYO – Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) mempertahankan tingkat suku bunganya di level 0,1 persen. Langkah tersebut ditempuh untuk memerangi deflasi yang mendera Negeri Sakura.
Tekad para pemangku kebijakan moneter pun telah bulat dan tidak akan berkompromi demi menjaga kemerosotan harga. Demikian hasil rapat dewan gubenur Bank Sentral Jepang, yang dilakukan selama dua hari.

“Ini merupakan tantangan penting bagi ekonomi Jepang untuk mengatasi deflasi dan kembali ke jalur pertumbuhan yang berkelanjutan dengan kestabilan harga,” demikian pernyataan Bank Sentral Jepang dalam keterangan yang dipublikasikan Associated Press (AP), Jumat (18/12/2009).

http://k4yu.blogspot.com

Economy Life Cyle

Hari-hari ini diskusi publik diramaikan dengan evaluasi kondisi ekonomi makro. Menjelang tutup tahun, muncul berbagai model review atau evaluasi terhadap perjalanan ekonomi makro sepanjang 2009. Sejalan dengan itu, menjelang tahun baru juga muncul berbagai ramalan atau prediksi kondisi ekonomi makro 2010.

Apa yang diharapkan sebenarnya dari diskusi-diskusi seperti ini? Jika dirinci satu satu tentu banyak sekali yang ingin diketahui dari kalangan ahli ekonomi tentang kondisi ekonomi ke depan. Namun, sederhananya ? terutama untuk kalangan pengusaha, profesional, pelaku pasar, dan tentu juga investor di pasar modal informasi tentang kondisi ekonomi makro yang diperoleh dari berbagai forum diskusi itu merupakan bekal dalam mengambil keputusan bisnis seperti ekspansi usaha atau investasi.

Dalam teori atau analisa fundamental, faktor ekonomi makro dan juga ekonomi internasional sangat mempengaruhi dalam membuat keputusan investasi. Bagaimana kondisi ekonomi internasional, seberapa besar pertumbuhannya, apakah masih rentan terhadap gejolak keuangan ataukah sudah stabil, seberapa besar risiko yang masih terkandung di dalamnya.

Bahasan ekonomi internasional ini bukan berarti mengulas ekonomi seluruh negara, tetapi lebih fokus kepada ekonomi negara-negara yang memiliki mata uang kuat (hard currency), seperti Amerika Serikat (dolar AS), Jepang (Yen), Inggris (Poundsterling), Jerman (Deutchs), China (Yuan) dan juga negara-negara Eropa yang memiliki mata uang Euro. Harga-harga komoditas di pasar internasional seperti minyak bumi, minyak sawit, emas, batu bara, timah dan sebagainya tidak luput dari bahasan.

Teruss>>>


http://k4yu.blogspot.com

Senin, 30 November 2009

Prefered & Common Stock

Preferred Stock
         it’s like common stock - no fixed maturity.
        Technically, it’s part of equity capital.
         it’s like debt - preferred dividends are fixed.
        Missing a preferred dividend does not constitute default, but preferred dividends are cumulative.
         Usually sold for $25, $50, or $100 per share.
         Dividends are fixed either as a dollar amount or as a percentage of par values.
         Example:  In 1988, Xerox issued $75 million of 8.25% preferred stock at $50 per share.
        $4.125 is the fixed, annual dividend per share.

Preferred Stock Features
         Firms may have multiple classes of preferred, each with different features.
         Priority:  lower than debt, higher than common stock.
         Cumulative feature:  all past unpaid preferred stock dividends must be paid before any common stock dividends are declared.
         Protective provisions are common.
         Convertibility:  many preferreds are convertible into common shares.
         Adjustable rate preferreds have dividends tied to interest rates.
         Participation:  some (very few) preferreds have dividends tied to the firm’s earnings.
         PIK Preferred:  Pay-in-kind preferred stocks pay additional preferred shares to investors rather than cash dividends.
         Retirement:  Most preferreds are callable, and many include a sinking fund provision to set cash aside for the purpose of retiring preferred shares.

Common Stock
Common Stock is a variable-income security. (dividends may be increased or decreased, depending on earnings).
         represents equity or ownership.
         includes voting rights.
         Limited liability:  liability is limited to amount of owners’ investment.
         Priority:  lower than debt and preferred. 

Common Stock Characteristics
Claim on Income - a stockholder has a claim on the firm’s residual income.
Claim on Assets - a stockholder has a residual claim on the firm’s assets in case of liquidation.
Preemptive Rights - stockholders may share proportionally in any new stock issues.
Voting Rights - right to vote for the firm’s board of directors.


http://k4yu.blogspot.com

Senin, 22 Juni 2009

LATIHAN SOAL AKUNTANSI MANAJEMEN

LATIHAN SOAL AKUNTANSI MANAJEMEN



LATIHAN SOAL 1

1. Pengertian akuntansi manajemen dalam arti luas meliputi bidang berikut, kecuali;

  1. Akuntansi Biaya
  2. Akuntansi Keuangan
  3. Audit internal
  4. Sistem Akuntansi

2. Pembuat keputusan yang bersifat strategis adalah;

  1. Middle Manajer
  2. Lower Manajer
  3. Top Manajer
  4. Manajer Pemasaran

3. Berikut ini yang bukan pemakai laaporan yang dihasilkan oleh akuntansi manajemen adalah;

  1. Manajer Pemasaran
  2. Direktur Produksi
  3. Kantor Inspeksi Pajak
  4. Manajer hubungan masyarakat

4. Tujuan primer akuntansi manajemen adalah membantu manajemen dalam;

  1. Melaksanakan fungsi perencanaan
  2. Menjawab masalah organisasi
  3. Pembuatan keputusan manajemen
  4. Melaksanakan fungsi pengendalian

5. Salah satu perbedaan antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen adalah objektif dan subjektif, hal ini dilihat dari segi…

  1. Ruang Lingkup
  2. Bentuk Informasi
  3. Sifat Informasi
  4. Tujuan

6. Manajer yang lebih terfokus pada transaksi yang menyangkut modal dan kas adalah;

  1. Manajer Produksi
  2. Manajer Keuangan
  3. Manajer Kas
  4. Manajer Akuntansi

7. Salah satu kode etik akuntan manajemen adalah confidentially, yang artinya;

  1. Menjaga objektifitas
  2. Menjaga kepercayaan
  3. Menyajikan informasi yang relevan
  4. Menjaga hubungan dengan relasi

8. Fungsi manajemen mana yang tidak dapat dipisahkan dengan dan merupakan bagian dari fungsi manajemen yang lain…

  1. Pengendalian
  2. Pengambilan keputusan
  3. Perencanaan
  4. Pengorganisasian

9. Tipe Pokok Akuntansi adalah..

  1. Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Biaya
  2. Akuntansi Manajemen dan Akuntansi Keuangan
  3. Akuntansi Manajemen dan Akuntansi Biaya
  4. Akuntansi Pwemerintahan dan Akuntansi Biaya

10. Bank yang akan memberikan kredit kepada nasabahnya memerlukan informasi keuangan yang dihasilkan oleh;

  1. Akuntansi Biaya
  2. Akuntansi Keuangan
  3. Akuntansi Manajemen
  4. Sistem Informasi Akuntansi

11. Lingkup informasi yang disajikan oleh akuntansi manajemen adalah

  1. Meliputi perusahaan sebagai keseluruhan
  2. Meliputi bagian perusahaan
  3. Mencakup masa yang telah lalu
  4. Mencakup disiplin ekonomi dan psikologi sosial

12. Isi laporan keuangan yang dihasilkan oleh akuntansi manajemen biasanya bersifat

  1. Teliti
  2. Objektif
  3. Valid
  4. Konsisten

13. Dalam lingkup sempit, tujuan akuntansi manajemen adalah menyediakan informasi bagi

  1. Pemakai eksternal
  2. Manajer Organisasi
  3. Manajemen Puncak
  4. Karyawan

14. Dalam perencanaan menyangkut dua hal yaitu, penetapan tujuan organisasi dan….

  1. pengkoordinasian tugas
  2. pengendalian tujuan
  3. cara untuk mencapai tujuan
  4. persetujuan manajer puncak

15. Pihak yang mempunyai tugas melakukan penilaian terhadap kondisi ekonomi adalah…..

  1. Akuntan Publik
  2. Controlller
  3. Treasurer
  4. Pemilik Perusahaan




http://k4yu.blogspot.com

Minggu, 07 Juni 2009

Capital Market

Dibalik Pasar Modal Syariah

Saat ini, banyak Bank yang bersaing dengan menggunakan system syariah, bahkan pergadaian ataupun leasing hingga asuransi juga sudah ada yang menggunakan system syariah. Entah program tersebut dicanangkan? Apakah karena tuntutan dengan mengikuti selera konsumen? Hal ini pun terjadi pada masalah investasi. Sebenarnya banyak cara untuk melakukan investasi keuangan yang sesuai dengan syariah Islam.

Investasi tersebut dapat dilakukan pada berbagai kegiatan usaha yang berkaitan aktivitas menghasilkan suatu produk, asset maupun jasa. Karena itu, salah satu bentuk investasi yang sesuai dengan syariah Islam adalah membeli Efek Syariah. Efek Syariah tersebut mencakup Saham Syariah, Obligasi Syariah, Reksadana Syariah, Kontrak Investasi Kolektiv Efek Beragun Asset (KIKEBA) Syariah, dan surat berharga lainnya yang sesuai dengan prinsip syariah. Investasi dengan pemilikan Efek Syariah dapat dilakukan di Pasar Modal baik secara langsung pada saat penawaran perdana, maupun melalui transaksi perdagangan sekunder dibursa. Pasar Modal menjadi alternatif investasi bagi para investor selain alternatif investasi lainnya seperti: menabung di bank, membeli emas, asuransi, tanah dan bangunan, dan sebagainya. Kembali ke arti Pasar Modal yang merupakan kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek tersebut. Pasar Modal bertindak sebagai penghubung antara para investor dengan perusahaan ataupun institusi pemerintah melalui perdagangan instrumen keuangan jangka panjang. Hanya saja selama ini pasar modal menjadi wadah ekonomi yang paling banyak menjalankan transaksi yang dilarang seperti bunga (riba), perjudian (gambling/maysir), gharar, penipuan dan lain-lain.

Upaya untuk melakukan Islamisasi pada sektor perputaran modal yang sangat vital bagi perekonomian modern ini semakin gencar. Islamisasi Pasar Modal Dilihat dari sisi syariah, pasar modal adalah salah satu sarana atau produk muamalah. Transaksi

didalam pasar modal, menurut prinsip hukum syariah tidak dilarang atau dibolehkan sepanjang tidak terdapat transaksi yang bertentangan dengan ketentuan yang telah digariskan oleh syariah. Diantara yang dilarang oleh syariah adalah transaksi yang mengandung bunga dan riba. Larangan transaksi bunga (riba) sangat jelas, karena itu transaksi dipasar modal yang didalamnya terdapat bunga (riba) tidak diperkenankan oleh Syari’ah. Syari’ah juga melarang transaksi yang didalamnya terdapat spekulasi dan mengandung gharar atau ketidakjelasan yaitu transaksi yang didalamnya dimungkinkan terjadinya penipuan (khida’). Termasuk dalam pengertian ini: melakukan penawaran palsu (najsy); transaksi atas barang yang belum dimiliki (short selling/bai’u maalaisa bimamluk); menjual sesuatu yang belum jelas (bai’ul ma’dum); pembelian untuk penimbunan efek (ihtikar) dan menyebarluaskan informasi yang menyesatkan atau memakai informasi orang dalam untuk memperoleh keuntungan transaksi yang dilarang (insider trading). Dengan adanya berbagai ketentuan dan pandangan syariah seperti diatas, maka investasi tidak dapat dilakukan terhadap semua produk pasar modal karena diantara produk pasar modal itu banyak yang bertentangan dengan syari’ah. Oleh karena itu investasi di pasar modal harus dilakukan dengan selektif dan dengan hati-hati (ihtiyat) supaya tidak masuk kepada produk nonhalal. Sehingga hal inilah yang mendorong islamisasi pasar modal.

Jumat, 06 Maret 2009

Perekonomian Dua Wajah?

Ada dua pertanyaan dalam tiga minggu terakhir cukup menggelitik. Pertama, apakah krisis keuangan atau krisis ekonomi akan segera menghampiri kita kembali? Kedua, apakah perkembangan ekonomi sedemikian suram sebagaimana tercermin dari sektor riil yang mandeg atau mengalami stagnasi?

Keyakinan yang tinggi bahwa kita akan mengalami kembali krisis seperti 1997-1998 dilontarkan beberapa pemerhati atau analis. Hujah utama yang melandasi keyakinan mereka ialah arus modal jangka pendek atau "uang panas" yang masuk deras ke Indonesia sudah mencapai jumlah dan porsi yang mengkhawatirkan. Krisis bakal meledak jika suatu waktu arus modal jangka pendek itu tiba-tiba hengkang dari Indonesia.

Kekhawatiran itu beralasan? Bagaimanapun kita harus selalu mewaspadai gerak-gerik arus modal "tak berkaki" ini. Namun, untuk mengatakan kondisi sekarang sangat mirip dengan keadaan menjelang krisis sepuluh tahun lalu, rasanya amat berlebihan, masih jauh api dari panggang.

Sepuluh tahun lalu, utang luar negeri pemerintah dan swasta yang jatuh tempo kurang dari setahun ditambah klaim jangka pendek lainnya lebih besar dari cadangan devisa kita kala itu. Kini, jumlah dana yang sewaktu-waktu dengan cepat berpotensi dialihkan ke luar negeri tak sampai separuh dari cadangan devisa. Dana jangka pendek itu di antaranya dalam bentuk Surat Utang Negara (SUN) sekitar Rp 80 triliun dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sekitar Rp 40 triliun. Katakanlah dana asing yang tertanam di pasar saham sebesar Rp 10 triliun, maka seluruh dana portofolio yang bisa dikategorikan sebagai hot money berjumlah Rp 130 triliun atau setara 15 miliar dollar AS.

Jika pun kita tambahkan dengan utang pemerintah dan swasta yang jatuh tempo yang keseluruhannya, katakanlah, berjumlah 5 miliar dollar AS, maka total klaim jangka pendek masih belum mencapai separuh dari cadangan devisa yang dewasa ini telah mencapai lebih dari 50 miliar dollar. Jangan lupa masih akan ada tambahan pasokan valuta asing dari utang baru pemerintah, baik dari negara dan lembaga donor maupun dari penerbitan obligasi di pasar modal internasional.

Tak bisa dipungkiri pula bahwa struktur cadangan devisa kita kian hari bertambah kuat. Ambil contoh tahun 2006, sebesar 64 persen pertambahan cadangan devisa berasal dari surplus akun semasa (current account), yang tak lain merupakan selisih positif antara ekspor barang dan jasa dengan impor barang dan jasa. Ini menandakan surplus senilai 9,6 miliar dollar AS pada tahun 2006 ini merupakan sumbangan riil dari kegiatan ekonomi produktif dan kucuran keringat seluruh pelaku ekonomi.

Kita menyadari, peningkatan ekspor yang cukup tinggi pada tahun 2006 terutama ditopang kenaikan tajam sejumlah komoditas berbasis sumber daya alam. Bagaimanapun, kenaikan ini nyata-nyata telah memperkokoh struktur cadangan devisa.

Peningkatan cadangan devisa sebesar 15 miliar dollar AS tahun lalu selebihnya disumbangkan oleh akun modal dan keuangan (capital & financial account) sebanyak 16,3 persen dan selisih perhitungan (errors and omissions) sebesar 19,7 persen. Item terakhir patut ditengarai sebagai murni hot money, karena penggunaannya tak terlacak oleh otoritas moneter (Bank Indonesia) atau tergolong sebagai non-underlying transactions.

Jika kita telusuri lebih rinci, tak seluruh capital & financial acount merupakan dana jangka pendek. Bahkan, ternyata pada tahun 2006 investasi langsung, diyakini bermotif jangka panjang, melampaui investasi portofolio, masing-masing 7,5 miliar dollar AS dan 5,7 miliar dollar AS. Kecenderungan perbaikan dalam transaksi modal sudah berlangsung sejak 2005.

Kinerja transaksi modal yang membaik secara kuantitas maupun kualitas ditambah peningkatan surplus akun semasa inilah yang menjelaskan mengapa cadangan devisa meningkat pesat dalam satu tahun terakhir, sekalipun 2006 kita telah mempercepat pelunasan utang kepada Dana Moneter Internasional dalam jumlah yang tergolong besar, sekitar 7 miliar dollar AS.

Sektor Riil Mandeg?

Secara sederhana perekonomian bisa dikelompokkan ke dalam dua sektor, yakni sektor riil dan keuangan. Sangat menyesatkan kalau dikatakan sektor riil mandeg atau mengalami stagnasi, sementara sektor keuangan melaju pesat.

Jika bepergian dengan moda angkutan udara, dengan kasat mata kita menyaksikan di hampir semua bandara penuh sesak penumbang, dan hampir semua tempat duduk pesawat terisi. Industri penerbangan, sektor riil.

Tengok pula peningkatan jumlah pelanggan telepon seluler yang spektakuler. Pertumbuhan triwulanan sektor telekomunikasi sudah cukup lama selalu di atas 20 persen per tahun. Industri telekomunikasi juga sektor riil. Saksikan pula pertumbuhan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di berbagai kota besar. Ini pun pertanda geliat sektor riil.

Jadi perkembangan sektor riil jauh dari kesan mandeg, terutama kalau kita hanya membatasi pada jenis-jenis kegiatan atau sektor-sektor jasa di atas. Selama kurun waktu 2001-2006, keseluruhan sektor jasa (sektor non-tradable) -- yang merupakan bagian dari sektor riil -- tumbuh rata-rata di atas 6 persen. Bahkan tahun 2005 pertumbuhan sektor jasa mencapai 8 persen. Walau setahun berikutnya sedikit turun menjadi 7,4 persen, namun pada triwulan pertama 2007 kembali naik menjadi 8,3 persen. Bukankah pencapaian tersebut secara nominal cukup mengesankan?

Kita tentu tak boleh cepat puas. Kegiatan-kegiatan di sektor non-tradable yang maju cukup pesat, sayangnya, tak bisa menjawab tantangan besar kita, penciptaan lapangan kerja baru dan pengurangan jumlah penduduk miskin.

Tantangan ini akan lebih bisa dijawab kalau sisi lain dari sektor riil -- yakni sektor tradable, lebih khusus lagi sektor pertanian dan sektor industri manufaktur -- melaju lebih cepat. Selama periode 2001-2006, pertumbuhan rata-rata sektor tradable hanya di bawah empat persen. Memasuki tahun 2007 ini, sektor tradable masih belum menunjukkan geliat sebagaimana terlihat dari pertumbuhan pada triwulan pertama hanya 3,9 persen. Seraya mulai muncul tanda cukup menggembirakan pada kinerja industri manufaktur yang tumbuh 5,6 persen pada triwulan I-2007, sektor pertanian justru mengalami kontraksi (pertumbuhan negatif) sebesar 0,5 persen.

Makna di Balik Data

Apakah perkembangan cukup positif sebagaimana ditunjukkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) maupun Bank Indonesia mencerminkan realitas kehidupan masyarakat dalam keseharian? Apakah ada konspirasi pemerintah dan BPS dengan merekayasa data yang kebetulan belakangan ini menunjukkan kecenderungan membaik?

Punulis sama sekali tak punya informasi tentang pemanipulasian data tersebut. Sebatas pengetahuan dan informasi yang sedikit penulis miliki, rasanya data-data yang belakangan ini dikeluarkan BPS masih bisa dijelaskan dengan akal sehat dan bisa dikonfirmasikan lewat observasi langsung. Ikhwal perbaikan yang terjadi masih belum menyentuh lapisan terbesar masyarakat, agaknya kita juga sepakat.

Tinggal sekarang bagaimana agar perbaikan yang telah terjadi bisa terus dipertahankan untuk menggapai perbaikan yang lebih berarti lagi. Dalam kaitan ini, sepatutnya para penentu kebijakan tak berkomentar dengan seleranya sendiri. Seperti, misalnya, komentar Gubernur Bank Indonesia yang mengatakan bahwa nilai tukar yang paling tepat adalah Rp 9.000 per dollar AS (Kompas, 23 Mei 2007, hal.17). Tak ayal, sehabis komentar tersebut, nilai tukar rupiah mendadak melorot kembali.

SeeYa & Davichi & T-Ara(JiYeon) - Forever Love
Internet Sehat